Tiga tahun lalu, saya mengisi apartemen studio 28 m² dengan furnitur IKEA dari A sampai Z. Bukan karena fanatik, tapi karena budget terbatas dan deadline move-in mepet. Bayangan klasik: lemari yang melengkung, meja goyang, rak terbalik dalam setahun. Tapi kenyataannya? Ada yang benar-benar mengejutkan, ada yang memang sesuai ekspektasi murahan. Ini lapangan terbaru saya—tanpa filter.

Pra-Kondisi: Apa yang Saya Beli & Harganya

Sebelum masuk ke cerita robekan dan murahan, ini daftar lengkap pembelian 2021 dengan harga saat itu. Semua dipakai intensif sehari-hari oleh satu orang dewasa, tanpa anak dan tanpa hewan peliharaan.

ProdukHarga (2021)Intensitas Pemakaian
Kasur MALM (140×200 cm)Rp 4.500.000Tidur 8 jam/hari
Lemari BILLY (80×202 cm)Rp 1.200.000Buka-tutup 5x/hari
Sofa-bed FRIHETENRp 6.800.000Duduk 4 jam/hari
Meja MICKE (73×50 cm)Rp 899.000Kerja 8-10 jam/hari
Kursi MILLBERGETRp 1.500.000Duduk 8-10 jam/hari
Rak HEMNES (3 susun)Rp 2.300.000Pajangan buku, jarang digerakkan

Tahun Pertama: Masa Bulan Madu yang Masih Instagrammable

Tahun pertama adalah masa-masa indah. Semua masih rapi, engsel masih halus, dan finishing masih mulus bak baru keluar dari showroom. Kesan sturdy masih kuat. Saya masih bangga ngajak teman-teman lewat video call, flexing setup minimalis ala-ala Skandinavia.

Yang mengejutkan: meja MICKE ternyata jauh lebih kuat dari kesan pertamanya. Beban 2 monitor, laptop, dan tumpukan buku tidak membuatnya melengkung sedikit pun. Konstruksi particle board-nya, meski terasa ringan pas dirakit, ternyata cukup kompak untuk beban harian.

Kursi MILLBERGET? Jauh lebih nyaman dari harganya. Foam-nya masih kencang, kulit sintetisnya masih halus. Tapi di sinilah pertama kali saya melihat red flag: kulit sintetis di area sandaran tangan mulai mengkilap sedikit. Tanda pemakaian intensif, tapi masih wajar.

Tahun Kedua: Munculnya Cacat Kecil & Kebiasaan Buruk Material

Ini masa transisi. Furnitur mulai menunjukkan karakter sebenarnya. Bukan rusak, tapi aging-nya terasa lebih cepat dari furnitur kayu solid.

Baca:  Review Sofa Bed Vs Sofa L Untuk Ruang Tamu Sempit: Mana Yang Lebih Fungsional?

Lemari BILLY: Pertarungan dengan Pintu

Pintu lemari BILLY mulai sedikit miring. Engsel standarnya, yang terbuat dari logam tipis, mulai memberikan perlawanan saat ditutup. Solusinya? Saya harus sering mengencangkan sekrup engsel—sekitar tiap dua bulan. Bukan masalah besar, tapi mengganggu.

Lebih mengkhawatirkan: backing board-nya (papan belakang dari material karton) mulai melengkung. Ini terjadi karena saya isi terlalu penuh. BILLY memang tidak diciptakan untuk menahan beban penuh di setiap rak. Pelajaran mahal: jangan pernah isi hingga batas maksimum.

Sofa-bed FRIHETEN: Awal Kehancuran Foam

Ini produk yang paling mengecewakan. Tahun kedua, foam dudukan mulai collapse di area tengah. Area yang paling sering diduduki—sekitar 30×30 cm—turun sekitar 2-3 cm dari aslinya. Sudah tidak lagi flat. Kain slipcover-nya juga mulai kusut di lipatan, meski sudah dicuci sesuai instruksi.

Fungsi sofa-bed-nya masih berfungsi, tapi mekanisme lipatnya mulai berderit. Perlu semprotan WD-40 tiap 6 bulan agar tetap halus. Untuk harga hampir 7 juta, ekspektasi lebih tinggi.

Tahun Ketiga: Realita Tanpa Filter

Ini tahun kebenaran. Semua veneer tipis sudah terkikis, engsel sudah lelah, dan finishing sudah worn out. Tapi ada juga yang justru semakin teruji.

Juara Tahan Banting: Rak HEMNES & Meja MICKE

Rak HEMNES—yang terbuat dari kayu pinus solid—masih kokoh. Tidak ada sedikit pun goyangan. Finishing putihnya memang menguning sedikit di area terkena sinar matahari, tapi struktur utamanya sangat reliable. Ini membuktikan: IKEA yang pakai kayu solid (bukan particle board) memang worth the price.

Meja MICKE, meski sudah penuh goresan dari penggunaan mouse dan noda kopi yang tidak sengaja tumpah, struktur mejanya masih stabil. Tidak ada goyang, tidak ada melengkung. Particle board-nya memang tahan banting kalau konstruksinya didesain dengan baik.

Korban Terburuk: Kasur MALM & Sofa FRIHETEN

Kasur MALM punya masalah unik: slatted bed base-nya (rangka kayu lapis) mulai melengkung di tengah. Malam-malam terakhir, saya sering terbangun karena ada springy feeling yang tidak nyaman. Cekungnya sekitar 1,5 cm di bagian tengah. Solusi sementara: saya taruh papan kayu tambahan di bawah untuk menambah support.

Sofa FRIHETEN? Sudah saya jual tahun ketiga. Foam-nya sudah terlalu collapse, dan slipcover-nya sudah tidak bisa diselamatkan lagi meski dicuci. Harga jual second: Rp 2.800.000. Penyusutan nilai 60% dalam 3 tahun.

Data Kuantitatif: Skor Ketahanan Produk

Untuk lebih jelas, ini skor ketahanan saya berdasarkan pengalaman nyata. Skala 1-10, 10 adalah sempurna.

  • Meja MICKE: 8/10 (goresan surface, tapi struktur kuat)
  • Kursi MILLBERGET: 6/10 (foam masih oke, kulit sintetis mulai aus)
  • Rak HEMNES: 9/10 (hanya fading warna, struktur sempurna)
  • Lemari BILLY: 5/10 (engsel dan backing board bermasalah)
  • Kasur MALM: 4/10 (slatted base tidak tahan lama)
  • Sofa FRIHETEN: 3/10 (foam collapse cepat, mekanisme berisik)
Baca:  Lampu Warm White Vs Cool Daylight: Review Pengaruhnya Terhadap Mood Dan Estetika Ruangan

Maintenance yang Saya Lakukan (dan Seberapa Efektif)

Saya bukan tipe yang rajin merawat, tapi ada beberapa hal yang saya coba. Hasilnya bervariasi:

  1. Mengencangkan sekrup tiap 3 bulan: Efektif untuk MALM dan BILLY, mencegah goyangan lebih parah.
  2. Membalik kasur (head to foot) tiap 6 bulan: Tidak banyak membantu kasur MALM karena masalah utamanya di base, bukan foam kasur.
  3. Mencuci slipcover sofa tiap 4 bulan: Membuat sofa terlihat baru, tapi tidak menghentikan collapse foam.
  4. Menggunakan coaster dan mousepad: Sangat efektif mencegah goresan pada meja MICKE.

Perawatan paling efektif: Jangan pernah melebihi kapasitas beban yang direkomendasikan. IKEA memberi spesifikasi untuk alasan. BILLY yang saya isi terlalu penuh adalah contoh nyata bagaimana mengabaikan spesifikasi merusak produk 2x lebih cepat.

Perbandingan: IKEA vs Furnitur Lokal dengan Harga Serupa

Di tahun ketiga, saya mulai membandingkan dengan teman yang pakai furnitur lokal seharga serupa. Hasilnya menarik:

Teman saya punya meja dari kayu jati lokal seharga Rp 1.200.000. Setelah 3 tahun, permukaannya masih halus, hanya sedikit gelap karena patina. Tapi bobotnya hampir 3x lipat meja MICKE. Fleksibilitas IKEA (mudah pindah, mudah dirakit) adalah trade-off yang jelas.

Lemari sliding door lokal seharga Rp 2.500.000 masih mulus semua. Engselnya lebih tebal, backing board dari plywood bukan karton. Tapi butuh 3 minggu produksi, sementara BILLY bisa dibawa pulang hari itu juga.

Apakah Worth It? Rekomendasi Berdasarkan Profil Pengguna

Jawabannya: bergantung pada profilmu.

Beli IKEA Jika Kamu:

  • Butuh furnitur instant dan mudah dibawa sendiri
  • Tinggal di sewaan dengan durasi 1-3 tahun
  • Tidak punya anak atau hewan peliharaan yang aktif
  • Bersedia merawat rutin (mengencangkan sekrup, tidak overload)

Hindari IKEA Jika Kamu:

  • Cari furnitur heirloom untuk 10+ tahun
  • Punya anak kecil atau kucing yang suka mencakar
  • Tidak suka perawatan rutin dan ekspektasikan “beli lupa”

  • Butuh furnitur untuk beban berat (buku koleksi, peralatan studio)

Produk IKEA terbaik adalah yang paling sederhana: rak, meja, storage box. Produk yang paling buruk adalah yang punya mekanisme bergerak: sofa-bed, tempat tidur lipat, engsel pintu berat.

Kesimpulan: IKEA adalah Troops, bukan General

Setelah 3 tahun, analogi yang paling pas: IKEA adalah foot soldier dalam perang furnitur. Banyak, murah, cepat, dan cukup efektif untuk misi jangka pendek. Tapi jangan harapkan mereka jadi jenderal yang memimpin 20 tahun.

Total pengeluaran saya: Rp 17.199.000 untuk full furnish studio. Yang masih bertahan dengan baik: MICKE, HEMNES, MILLBERGET (nilai total Rp 5.699.000). Yang sudah dijual/rusak: FRIHETEN, MALM, BILLY (nilai total Rp 11.500.000). Itu artinya 66% nilai investasi habis dalam 3 tahun.

Jadi, jika kamu pikir IKEA murah, pikirkan lagi. Murah di muka, tapi cost per year-nya bisa lebih tinggi daripada beli furnitur mid-range sekali jalan. Tapi fleksibilitasnya? Itu yang tidak bisa dihargai. Saya sudah pindah apartemen sekali, dan meja MICKE serta rak HEMNES pindah dengan mudah. Furnitur kayu jati teman saya? Butuh tukang dan mobil pick-up.

Keputusan ada di tanganmu. Tapi setidaknya sekarang kamu punya data nyata, bukan review unboxing yang hanya pakai seminggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Lemari Pakaian Terbuka (Open Wardrobe) Vs Tertutup: Review Masalah Debu Di Indonesia

Bayangkan membuka lemari pakaian dan tanganmu langsung berdebu. Itu bukan salahmu, itu…

Review Rak TV Gantung (Floating Cabinet): Amankah Menahan Beban TV LED 50 Inch ke Atas?

Bayangkan ruang tamu minimalis dengan rak TV yang nampak melayang, bebas kaki-kaki…

Review Sofa Bed Vs Sofa L Untuk Ruang Tamu Sempit: Mana Yang Lebih Fungsional?

Ruang tamu 3×4 meter itu bukan tanah lapang. Setiap sentimeter adalah real…

Lampu Warm White Vs Cool Daylight: Review Pengaruhnya Terhadap Mood Dan Estetika Ruangan

Pernahkah Anda masuk ke ruangan yang terasa “tidak nyaman” meski furniturnya bagus?…